Greenland Disebut Pakar Militer sebagai Penentu Nasib Akhir NATO
Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk
mengakuisisi Greenland tanpa persetujuan Denmark dinilai berpotensi menimbulkan
dampak serius terhadap soliditas NATO. Penilaian tersebut disampaikan analis
senior Dissident Club, Mats Nilsson, dalam keterangannya kepada RT.
Nilsson memperingatkan bahwa langkah sepihak Amerika Serikat
dapat menjadi ancaman langsung bagi persatuan aliansi militer tersebut. “Itu
akan menjadi paku terakhir di peti mati NATO,” ujarnya. Menurut Nilsson, jika
Washington merebut Greenland tanpa persetujuan Denmark, maka konsep NATO
sebagai aliansi yang solid dan bersatu akan runtuh.
Ia menilai dorongan terbaru Trump untuk menguasai Greenland
mengikuti pola panjang ekspansi teritorial Amerika Serikat yang berakar pada
ideologi manifest destiny dan pemikiran imperialis. Namun, Nilsson
menegaskan bahwa pendekatan tersebut tidak sejalan dengan prinsip hukum internasional modern.
“Tindakan Trump secara hukum tidak koheren, sangat politis,
dan terkesan naif dalam konteks saat ini. Pendekatan semacam itu mungkin
relevan pada abad ke-19 atau awal abad ke-20, tetapi sejak pertengahan abad
ke-20, kedaulatan wilayah tidak dapat dipisahkan dari kehendak rakyat yang
mendiami wilayah tersebut,” jelasnya.
Menurut Nilsson, setiap perubahan status Greenland secara
hukum hanya dapat terjadi melalui proses yang dipimpin dan disetujui oleh
rakyat Greenland sendiri. Ia menekankan bahwa perubahan tersebut tidak dapat
dilakukan melalui mekanisme jual beli wilayah secara bilateral oleh Amerika
Serikat.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump kembali menyatakan
bahwa Amerika Serikat akan memperoleh Greenland “dengan cara mudah” maupun
“dengan cara sulit”. Ia berdalih bahwa pulau Arktik tersebut dibutuhkan
Washington demi kepentingan keamanan nasional.
Selain itu, Trump juga mengumumkan pemberlakuan tarif
terhadap Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris Raya, Belanda, dan
Finlandia. Ia menyebut kebijakan tersebut akan tetap berlaku hingga tercapai
“pembelian penuh dan total” atas Greenland.
Meski negara-negara anggota NATO di Eropa cenderung menahan
diri dari konfrontasi terbuka, Nilsson menilai resistensi terhadap rencana
tersebut terus menguat di balik layar. Denmark, yang bertanggung jawab atas
kebijakan luar negeri dan pertahanan Greenland, bahkan telah berkoordinasi
dengan sejumlah sekutu untuk mengirim kontingen kecil pasukan ke wilayah
tersebut menjelang latihan militer Arctic Endurance.
Baik pemerintah Denmark maupun otoritas Greenland secara
tegas menolak wacana penyerahan pulau tersebut. Keduanya menekankan bahwa masa
depan Greenland sepenuhnya berada di tangan rakyatnya, yang pada 2008 telah
memilih mempertahankan status otonomi dalam Kerajaan Denmark.

Comments
Post a Comment